LATAR BELAKANG
Pendidikan
merupakan satu tantangan yang serius bagi bangsa Indonesia. Angka pengangguran
yang berijazah perguruan tinggi adalah salah satu indikasi rendahnya mutu
pendidikan tinggi kita. John Dami Mukese (Kleden, 2007: 255) mengatakan bahwa
salah satu sebab rendahnya minat membaca ialah sifat malas. Menurut Mukese, ada
empat hal pokok yang membuat masyarakat NTT malas membaca. Pertama, bersumber
pada sikap mental yakni sikap atau sifat malas itu sendiri. Kedua, bersumber
pada pengertian yang belum lengkap tentang makna dan pentingnya membaca.
Ketiga, disebabkan oleh rendahnya penguasaan dan ketrampilan berbahasa
Indonesia. Keempat, berkaitan dengan masalah teknis karena tidak memiliki
ketrampilan membaca yang baik.
Beriringan
dengan rendahnya mutu pendidikan, minat masyarakat untuk mendapatkan pendidikan
yang berkualitas semakin bertambah. Banyak orang berimpian memproleh kesempatan
untuk mengenyam pendidikan yang berbobot sebagai bekal hidupnya. Pendidikan
yang diharapkan di tengah realitas seperti ini ialah pendidikan yang mampu meningkatkan
kualitas sumber daya manusia. Kualitas di sini mencakupi kualitas intelektual
dan kualitas mental spiritual menyangkut nilai-nilai. Oleh karena itu
pendidikan yang berkualitas harus mempromosikan bertumbuhnya nilai-nilai
kehidupan seperti keadilan, kejujuran, moral, toleransi dan solidaritas.
Mahasiswa
sering dijuluki sebagai “aktor intelektual” karena mereka diharapkan memberikan
kontribusi ilmiah untuk mengubah masyarakat dan dirinya ke arah yang lebih baik.
Selain itu mereka juga memikul tanggung jawab meneruskan perjuangan para pendahulu
mereka untuk membangun bangsa dan negara.
Tugas
berat yang ada di pundak mahasiswa saat ini adalah bagaimana menjadi seorang
mahasiswa yang berkualitas dari segi intelektual. Seorang mahasiswa dikatakan
berkualitas apabila ia mempunyai wawasan luas dan mendalam serta tanggap
terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,
khususnya dalam bidang yang digelutinya. Mahasiswa juga diharapkan dapat
berpartisipasi dalam merenovasi bangsa di berbagai bidang, baik di bidang
ekonomi, sosial, politik, dan budaya, maupun di bidang rohani. Untuk itu,
mahasiswa dituntut agar selalu mengembangkan dan memperkaya khazanah
pengetahuan, meningkatkan kreativitas dan daya intelektualnya. Ia juga
diharapkan mengembangkan spesialisasi keilmuannya dengan membaca agar dapat
memberikan kontribusinya kepada negara secara nyata. Pertanyaannya, apakah para
mahasiswa telah benar-benar menjalankan tugas-tugas tersebut dengan baik?
Berbagai upaya telah dilakukan. Perguruan Tinggi berupaya meningkatkan kualitas
pendidikannya agar mahasiswa yang dihasilkannya berkualitas. Upaya-upaya
tersebut antara lain adalah perbaikan kurikulum, peningkatan kualitas dosen,
dan yang paling nyata ialah peningkatan fasilitas-fasilitas kampus yang
memadai. Namun apakah peningkatan kualitas sudah cukup kalau hanya dilakukan oleh
pihak kampus saja? Banyak Perguruan Tinggi yang kini telah menyediakan berbagai
fasilitas penunjang yang memadai, bahkan sangat potensial dalam memenuhi
kebutuhan civitas akademika dan menunjang peningkatan kualitas para
mahasiswanya.
Salah
satu fasilitas penunjang tersebut ialah perpustakaan. Perpustakaan
di sini merupakan tempat yang menyediakan berbagai media informasi, tidak hanya
berbagai macam koleksi buku yang lengkap, namun juga berbagai media
lain misalnya surat kabar, majalah, jurnal, koleksi buku
berbahasa asing ataupun fasilitas internet. Di perpustakaan inilah mahasiswa
dapat belajar secara mandiri. Belajar mandiri merupakan ciri khas belajar di
Perguruan Tinggi. Di sana, inisiatif untuk belajar aktif dituntut lebih banyak dari
mahasiswa. Salah satu caranya ialah dengan memanfaatkan waktu dengan
sebaik-baiknya untuk mengunjungi perpustakaan baik untuk membaca maupun menulis.
Salah satu
permasalahan yang ada di tengah mahasiswa saat ini adalah rendahnya budaya
intelektual pada mahasiswa, yang ditandai dari rendahnya aktivitas membaca dan
menulis pada mahasiswa. Budaya itu makin langka dan meluntur tanpa diketahui
secara pasti apakah penyebabnya. Inilah fakta yang terjadi mengenai Sumber Daya
Manusia di Indonesia yang menunjukkan rendahnya kualitas sumber daya
manusianya, yang tidak terlepas dari mahasiswa itu sendiri yakni rendahnya
budaya membaca.
Sekolah
Tinggi Pastoral Atma Reksa (Stipar) Ende adalah salah satu sekolah tinggi yang
mau menghasilkan fungsionaris pastoral yang andal, kritis, kreatif, dan
inovatif, yang berpedoman pada asas-asas dasar pendidikan Kristiani. “Berkat
kelahiran kembali dari air dan Roh Kudus umat Kristen telah menjadi manusia baru
dan bahwa mereka bukan hanya disebut anak Allah tetapi memang mereka adalah
anak Allah. Maka semua orang berhak menerima pendidikan (GE no. 2) Maka perlu
ada dorogan dari dalam diri mahasiswa sebagai agen pewartaan untuk meningkatkan
kualitas dirinya dengan membaca yang disertai dengan semangat untuk menulis.
Pendidikan
di Stipar bertujuan untuk menghasilkan para fungsionaris pastoral yang
professional, bertanggungjawab atas iman, dan terlibat dalam tata dunia. Mereka
harus menjadi agen pastoral yang mampu membawa perubahan serta memiliki sikap
kritis terhadap berbagai realitas hidup. Agar dapat menghasilkan para fungsionaris
yang profesional maka visi lembaga pendidikan Stipar harus benar-benar diwujudkan.
Ciri khas Stipar dalam menjalankan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan
pengabdian kepada masyarakat harus dipersiapkan dengan wawasan dan pandangan
yang baru, serta menemukan metode dan cara baru dalam membangun sumber daya
manusia mahasiwa. Dengan demikian terbentuk mahasiswa yang berkarakter ilmiah, kritis
serta memiliki kemampauan untuk menganalisis serta menjadi guru agama yang
berwawasan luas.
Namun
dari pengamatan penulis, banyak mahasiswa Stipar yang kurang berminat untuk
membaca apalagi untuk menulis. Begitu banyak waktu yang disediakan oleh kampus
namun tidak digunakan secara baik. Mereka lebih menyukai hal yang lebih banyak
hura-hura, tidur yang tanpa kenal waktu serta ngobrol yang tidak bermanfaat.
Mahasiswa yang masuk perpustakaan setiap hari sangat sedikit. Sehingga deretan
buku yang banyak di perpustakaan hanya menjadi hiasan belaka.
Hal ini berdampak pada rendahnya mutu
dan sumber daya manusia mahasiswa karena kurang membaca serta semangat untuk
menulis, bahkan banyak para dosen selalu mengeluh akan tulisan yang dibuat oleh
mahasiswa Stipar baik itu makalah maupun skripsi. Pengaruh kampus sebagai ruang
untuk diskusi ilmiah, menulis ilmiah dan cara berpikir ilmiah belum tampak pada
diri masing-masing mahasiswa Stipar. Maka bertolak dari latar belakang ini
penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang kiprah mahasiswa Stipar dalam
mengembangkan sumber daya manusia melalui minat membaca yang ditandai oleh
semangat untuk menulis sebagai dasar untuk meningkatkan sumber daya manusia.
Maka penulis memilih judul “Minat baca
mahasiswa Stipar dan upaya untuk meningkatkannya demi menciptakan sumber daya fungsionaris
pastoral yang bermutu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar